Jumat, 16 Januari 2026

Trauma yang Diam-diam Tumbuh Bersama Usia


Aku tumbuh dengan jarak usia yang jauh dari orang tuaku. Sekitar empat puluh tahun memisahkan kami. Sejak aku kelas 1 SD, bapak dan ibuku sudah sering mengingatkan satu hal yang terus terngiang sampai hari ini: "usia mereka tidak panjang."
Penyakit metabolik yang mereka miliki membuat kata meninggal terasa terlalu dekat untuk anak usia 6 tahun terasa di depan mata.

Bukan sekali dua kali.
Berulang kali.

Seolah hidup sudah menyiapkan perpisahan bahkan sebelum aku benar-benar memahami arti kehadiran. Sejak kecil, aku hidup dengan kesadaran yang terlalu dini:
suatu hari aku akan sendirian.

Kekhawatiran yang Menjadi Pola Asuh
Tanpa sadar, ketakutan itu tumbuh bersamaku.
Ia membentuk caraku melihat hidup, caraku bertahan, dan akhirnya caraku mengasuh anakku sendiri. Aku mendidik anak dengan kewaspadaan tinggi. Ada dorongan kuat agar ia cepat mandiri. Cepat bisa. Cepat paham. Cepat tangguh. Di balik semua itu, ada ketakutan yang jarang kuucapkan:
Bagaimana jika suatu hari aku tidak ada?
Apakah ia bisa bertahan?
Apakah ia bisa hidup seperti aku dulu?

Karena aku pernah berada di usia remaja tanpa orangtua. Mengurus hidup sendiri mulai dari urusan makan, sekolah, dan keputusan-keputusan besar sendirian. Bukan karena tidak ada kakak, tapi karena rasanya tak ingin merepotkan mereka yang sudah dewasa dan punya hidup sendiri.

Aku survive.

Tapi aku lupa satu hal penting: bertahan hidup tidak selalu berarti hidup dengan tenang.

Ekspektasi yang Lahir dari Luka
Aku baru menyadari belakangan ini, bahwa ekspektasiku pada anak bukan murni karena ingin yang terbaik. Sebagian lahir dari trauma. Ada rasa cemas yang besar jika anakku tidak memiliki keterampilan yang dulu menyelamatkanku. Ada ketakutan jika ia “terlalu lembut” untuk dunia yang keras. Ada dorongan agar ia siap menghadapi kehilangan, bahkan sebelum kehilangan itu benar-benar ada. Padahal, luka masa kecil tidak seharusnya diwariskan sebagai standar pengasuhan. Anakku tidak hidup di cerita yang sama denganku. Dan ia tidak harus membayar harga yang pernah kubayar.

Luka yang Perlu Berhenti di Aku
Pelan-pelan aku mulai mengerti: hal ini perlu berhenti di aku. Aku boleh mengakui bahwa aku pernah takut. Aku boleh mengakui bahwa aku pernah dipaksa dewasa terlalu cepat. Tapi aku tidak perlu menjadikan itu cetak biru untuk anakku. Anakku berhak memiliki masa kanak-kanak yang aman. Ia berhak belajar bertumbuh tanpa dibebani bayangan kehilangan yang belum tentu terjadi. Ia berhak dicintai tanpa ekspektasi yang lahir dari ketakutanku sendiri. Tugasku bukan mempersiapkannya untuk bertahan hidup sendirian, melainkan memastikan ia tahu bahwa ia punya tempat pulang dan dukungan, dan ia tidak harus menjadi “kuat” untuk layak dicintai.

Menyembuhkan dengan Kesadaran
Trauma masa kecil tidak selalu hadir sebagai luka yang berdarah. Kadang ia datang sebagai kewaspadaan berlebih. Sebagai kecemasan yang terlihat seperti tanggung jawab. Sebagai pengasuhan yang tampak “baik”, tapi diam-diam berat. Menyadarinya adalah langkah awal penyembuhan. Bukan untuk menyalahkan orangtua kita, mereka pun hidup dengan ketakutan dan keterbatasannya sendiri, tetapi untuk memilih jalan yang berbeda. Aku ingin anakku belajar hidup bukan dari rasa takut kehilangan, melainkan dari rasa aman untuk bertumbuh. Jika ada satu hal yang kupelajari dari semua ini, adalah bahwa bertahan hidup memang penting, tetapi hidup dengan utuh, dicintai, dan tidak sendirian
jauh lebih penting.

Dalam proses berdamai dengan masa kecil, aku belajar bahwa tidak semua ketakutan perlu diteruskan, dan tidak semua luka harus diwariskan. Ada bagian hidup yang perlu kuserahkan kembali pada Tuhan, tentang usia, tentang kehilangan, tentang hal-hal yang berada di luar kendaliku. Tugasku bukan mengamankan masa depan dengan kecemasan, melainkan menghadirkan kasih hari ini dengan penuh kesadaran. Dengan percaya bahwa hidup anakku berada dalam penjagaan-Nya, aku perlahan melepaskan rasa takut yang dulu menahanku, dan memilih menjadi orang tua yang menumbuhkan rasa aman, bukan kecemasan. Semoga luka ini berhenti di aku, dan cintaku menjadi jalan pulang yang lebih ringan bagi anakku.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top