Lalu sebenarnya apa itu read aloud dan apa saja yang dilakukan? Baca sampai selesai, siapa tahu ada hal menarik yang kamu baru tahu!
Jauh sebelum gerakan ini muncul dan ngehits di Indonesia sekitar awal tahun 2020 sampai saat ini, pasti pernah kan dibacakan cerita oleh orang tua atau guru. Nah kegiatan dibacakan cerita yang pernah kita rasakan saat kecil, dikenal dengan nama read aloud. Sederhananya read aloud itu kegiatan melisankan bahan bacaan untuk orang lain, dengan suara yang nyaring dan intonasi yang tepat. Pertama kali aku mengenal kata read aloud ketika mengajar di sebuah sekolah pada tahun 2012. Kami para guru mengajak anak-anak (pre-school) untuk memandu circle time di mana ada kegiatan bernyanyi, bergerak, dan dibacakan buku cerita. Sebelum dibacakan buku cerita anak-anak tampak antusias dengan buku yang akan dibacakan oleh guru. Saat dibacakan pun anak-anak menyimak dengan penuh rasa penasaran dan mengajukan pertanyaan. Banyak diskusi yang terjadi selama 10-15 menit kegiatan read aloud ini bersama anak-anak, tapi yang paling aku ingat adalah antusiasme anak-anak, wajah gembira ketika dibacakan dan diajak berdiskusi bersama guru dan teman-teman. Kamu perlu coba membacakan buku ke anak-anak misalnya waktu kegiatan volunteer atau di perpustakaan, mereka punya banyak pertanyaan yang ajaib.
Kalau kamu ingin tanya sesuatu tentang read aloud, berkomunitas, atau mengundangku ke sekolah untuk sharing tentang read aloud, boleh kontak aku di sini.
Sekarang giliran kamu cerita tentang pengalaman read aloudmu! Kalau ada yang ingin kamu diskusikan atau sampaikan, jangan ragu untuk tinggalkan komentar ya! Dan kalau artikel ini bermanfaat, boleh banget dibagikan ke teman-temanmu.
Rasanya senang, sekarang banyak teman yang mulai mempraktikkan read aloud di rumah dan sekolah masing-masing. Dari yang awalnya 20 komunitas di tahun 2020, saat ini di tahun 2025 sudah berkembang menjadi 110 komunitas yang tersebar di Indonesia. Tentunya itu bukan kerja kerasku, hanya kebetulan aja 2020 melalui komunitas Read Aloud Jogja, aku mengajak komunitas-komunitas read aloud yang ada di Indonesia untuk berkumpul, sembari mendorong lulusan Training of Trainer Read Aloud jebolan komunitas RAJo (Read Aloud Jogja) untuk membuat komunitas di daerahnya. Beberapa komunitas yang lahir dari Training of Trainer yang diadakan Read Aloud Jogja: Read Aloud Jakarta, Read Aloud Jakarta Selatan, Read Aloud Depok, Read Aloud Serang, Read Aloud Bandung, Read Aloud Lombok, Read Aloud Manokwari, Read Aloud Bali, Read Aloud Aceh, Read Aloud Kalimantan Barat, dan Read Aloud Cianjur. Ada yang aktif sampai saat ini, ada yang hiatus. Semoga yang sudah ada dan sedang berkegiatan makin bertumbuh, akarnya makin kuat, dan berbuah manis.
Lalu apakah perlu ikut pelatihan, webinar, workshop, atau Training of Trainer Read Aloud untuk bacakan nyaring ke anak atau terjun dengan gerakan ini? My unpopular opinion, tidak! Karena read aloud itu milik siapa saja, bisa dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun. Kabar baiknya read aloud itu mudah, murah, dan menyenangkan. Tinggal ambil buku, baca lebih dulu, lalu bacakan ke anak dengan intonasi yang tepat, kemudian ajak anak untuk berdiskusi baik terkait cerita yang tadi telah dibacakan, atau menghubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari. Masak mau bacakan ke anak sendiri harus ikut pelatihan dulu? Nggak ya, percayalah kalau read aloud ini sungguh sangat sederhana.
Lalu apakah perlu ikut pelatihan, webinar, workshop, atau Training of Trainer Read Aloud untuk bacakan nyaring ke anak atau terjun dengan gerakan ini? My unpopular opinion, tidak! Karena read aloud itu milik siapa saja, bisa dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun. Kabar baiknya read aloud itu mudah, murah, dan menyenangkan. Tinggal ambil buku, baca lebih dulu, lalu bacakan ke anak dengan intonasi yang tepat, kemudian ajak anak untuk berdiskusi baik terkait cerita yang tadi telah dibacakan, atau menghubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari. Masak mau bacakan ke anak sendiri harus ikut pelatihan dulu? Nggak ya, percayalah kalau read aloud ini sungguh sangat sederhana.
Bagaimana dengan membacakan nyaring di perpustakaan apakah perlu ikut pelatihan juga? Kalau pendapatku tidak perlu juga, cukup membaca beberapa referensi tentang read aloud dari tiga buku, yang tersedia dalam bahasa Indonesia:
- The Read Aloud Handbook (Jim Trelease)
- Reading Magic (Mem Fox)
- Saatnya Bercerita (Sofie Dewayani & Roosie Setiawan)
Kamu bisa beli waktu diskon 30%, biasanya pas tanggal cantik di marketplace kesayanganmu. Ketiga buku ini sudah sangat cukup untuk bekal kamu membacakan nyaring baik di sekolah atau di perpustakaan, dan yang paling penting memperbanyak praktik read aloud. Karena pengalaman membacakan satu anak dengan lebih dari sepuluh anak itu akan berbeda. Bagaimana menguasai panggung di depan anak-anak agar mereka tertarik menyimak ceritanya dan berdiskusi secara aktif di akhir sesi read aloud. Jika setelah membaca ketiga buku ini masih merasa kurang yakin, kamu bisa coba ikut webinar gratis tentang read aloud yang seliweran di mana-mana. Jalan terakhir nih kalau kamu bisa ikut Training of Trainer.
Tapi kalau mau mendirikan komunitasnya perlu ikut Training of Trainer Read Aloud juga nggak? Menurutku hal ini nggak perlu, first of all kamu perlu ngecek komunitas read aloud di daerahmu. Jika tidak ada komunitas read read aloud di tempatmu, kamu bisa kumpulkan 3-4 orang yang punya visi dan misi yang sama tentang menyebarkan read aloud di tempat tinggalmu (tingkat kota atau kabupaten), nah khusus Yogyakarta, kami semua sudah sepakat untuk satu komunitas saja dan fokus memperbanyak titik dan relawan. Tentunya aku berharap kamu melakukan kegiatan komunitas ini dengan senang dan konsisten.
Intinya Read Aloud itu mudah, murah dan menyenangkan. Jadi belajarnya pun bisa dari mana aja, bisa dari buku, pengalaman, webinar, dsb. Nggak harus ikut pelatihan tertentu untuk jadi pemateri read aloud. Selama paham sama materinya dan konsisten mempraktikkan kegiatan ini. Bisa dipastikan kamu bisa sharing dan ajak lebih banyak orang untuk membacakan nyaring. Jadi jangan dibikin pusing antara: Bacanya harus kayak gimana? Ditunjuk kah teksnya? Atau tidak? Gimana cara pegang bukunya? Perlu improvisasi atau gimana? Kamu akan dapat jawabannya di tiga buku yang aku rekomendasikan tadi. Percaya deh kalo kamu rutin membacakan nyaring, pasti akan menemukan formula yang pas untuk membacakan nyaring.
Sebuntel pengalaman sharing read aloud tersingkat waktu aku ke perpustakaan naik ojek, pak ojek penasaran dengan rompi Read Aloud Jogja yang aku pakai. Beliau menanyakan apa yang sedang aku kerjakan. Bayangkan hanya punya waktu 20 menit (perjalanan dari rumah ke perpustakaan) untuk menyampaikan materi singkat tentang read aloud di atas motor, dengan helm yang kacanya selalu turun, angin kencang, suaraku yang kayak bledek ini memastikan si bapak denger info yang aku berikan. Pas sudah mau sampai perpustakaan, ngajak pak ojek untuk unduh aplikasi Let's Read, kebetulan beliau punya anak TK yang sedang belajar baca. Pak ojek berasa dapat harta karun ribuan buku gratis di HP. Persis seperti yang aku rasakan waktu 2018 pertama kali memakai Let's Read.
Kenapa baca di Let's Read, karena ini open sources yang artinya bisa diakses bebas, dan bisa dicetak juga dengan menyebutkan atribusi. Beruntung banget bisa tahu aplikasi ini waktu awal perjalanan rutin membacakan nyaring ke anak pertamaku. Kebayang ya kalau harus beli buku, 50K dapat satu buku. Padahal kalau diberikan beras waktu itu sudah dapat 5kg. Saat itu aku belum mampu menyiapkan budget 50K per bulan untuk beli buku. Selain pinjam di perpustakaan, aku pengguna aktif Let's Read. Karena anak pertamaku, aku bisa terjun menjadi bagian dari Let's Read sambil menemani Read Aloud Jogja bertumbuh.
Nggak terasa perjalanan komunitas read aloud ini sudah lebih dari lima tahun, semakin banyak teman-teman yang aktif mempraktikkan read aloud di media sosial. Artinya kegiatan ini sudah banyak dikenal masyarakat. Pesanku, tetap baca aturan yang berlaku ya saat membacakan nyaring. Karena tidak semua penerbit mengizinkan karyanya dibacakan nyaring dan disebarluaskan di media sosial. Yuk jadi warga Indonesia yang literat; baca, pahami aturan dan ketentuannya sebelum membagikan kegiatan read aloud di media sosial.
Kalau kamu ingin tanya sesuatu tentang read aloud, berkomunitas, atau mengundangku ke sekolah untuk sharing tentang read aloud, boleh kontak aku di sini.
Sekarang giliran kamu cerita tentang pengalaman read aloudmu! Kalau ada yang ingin kamu diskusikan atau sampaikan, jangan ragu untuk tinggalkan komentar ya! Dan kalau artikel ini bermanfaat, boleh banget dibagikan ke teman-temanmu.


Tidak ada komentar :
Posting Komentar