Jumat, 10 Mei 2024

Harga Mahal Perjuangan Literasi

Saat ini pendidikan di Indonesia kembali berfokus pada literasi, numerasi dan sains. Semacam siklus yang kembali lagi dari awal. Dulu ibuku selalu cerita kalau di sekolahnya mempelajari 3 pelajaran itu, di sekitar awal tahun 1950an. Karena memang fondasi awal menjadi pembelajar sepanjang hayat dari ketiga dasar tersebut.


Di zamanku masuk SD sekitar tahun 1990an, materi yang diajarkan cukup banyak. Mulai dari PPKN, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, dsb. Kurikulum memang mengalami banyak perubahan lintas dekade. Tapi syukurnya sekarang pembelajaran kembali disederhanakan lewat literasi, numerasi dan sains.

Tahun 2017 sewaktu pindah ke Bantul, aku nggak punya kegiatan yang berarti. Di tahun-tahun sebelumnya, aku disibukkan dengan mengajar di sekolah, kuliah, mendaki, traveling ke berbagai tempat, membangun usaha kecil-kecilan. Lalu tiba-tiba tidak berkegiatan sama sekali, benar-benar hanya di rumah dan perpustakaan. Beruntung, anak-anak tetangga masih sering main ke rumah jadi ada kegiatan bermain bersama anak-anak. Agak kaget ketika anak-anak SD kelas 4 dan 5 masih suka dibacakan buku cerita. Mata mereka nampak berbinar ketika dibacakan buku cerita bergambar. Bahkan banyak dari mereka yang tidak memahami 3-5 kata yang ada di buku cerita. Kaget juga di tahun yang menurutku sudah semakin maju, ternyata banyak yang nggak suka membaca. Rasanya era gawai ini menjadi distraksi utama pada anak-anak dan menjadi salah satu pemicu rendahnya minat baca pada anak. Yang lebih disayangkan lagi, banyak anak usia dini tidak pernah dibacakan buku oleh orang tua atau pun guru mereka.

Long story short, aku diminta untuk membantu mengajar di salah satu sekolah PAUD di Bantul. Beruntungnya aku dapat golden ticket masuk ke sekolah idola se-kecamatan. Untuk kebanyakan orang akan melihat sekolah ini menjadi sekolah yang luar biasa keren karena fasilitas yang lengkap, gedung yang kokoh, permainan yang beragam, dsb. Tapi mungkin ada satu hal yang luput dari pandangan mereka, ruang perpustakaan. Ruang yang sangat kecil dan lebih mirip seperti gudang dengan minimnya pencahayaan ini rasanya nggak layak untuk disebut menjadi perpustakaan. Ketika masuk ke sana, anak-anak atau bahkan orang dewasa pasti enggan masuk kembali karena ruangannya begitu gelap. Di tengah ratusan buku yang berjajar rapi di rak. Kurang dari 10 buku yang terbuka, lainnya masih dalam segel. Sudah bisa dipastikan anak-anak tidak pernah dibacakan nyaring oleh guru di sekolah.

Jadi begini ya ketimpangan pendidikan yang terjadi di Indonesia. FIUH! Bayangkan ketika mengajar di sekolah internasional yang anak-anaknya dibacakan buku cerita ketika circle time setiap pagi dan bergembira bersama. Anak-anak di sekolah pada umumnya tidak mendapatkan privilege seperti itu. Padahal membacakan buku cerita bergambar itu adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Akhirnya aku berusaha kesana kemari untuk mengajak para guru dan orang tua untuk membacakan buku cerita. Ternyata ngajak orang lain untuk membacakan buku cerita itu nggak semudah itu, meski buku yang dibacakan teksnya sangat pendek. Ya gimana mau membacakan, kalau guru atau orang tua tidak senang membaca. Mencari partner untuk membangun sebuah komunitas pun nggak mudah, kali ketiga pindah kontrakan masih juga tidak mendapatkan teman untuk berjuang bersama.

Tahun 2019 akhir saat mendirikan komunitas Read Aloud Jogja pun masih sendirian. 2020 awal sebelum COVID-19 menyerbu Indonesia, barulah bertemu dengan beberapa teman-teman yang satu tujuan dan itu pun melalui sosial media. Dengan langkah yang terseok-seok, kami pelan-pelan mulai dikenal warga Yogyakarta. Ingat sekali dulu memasukkan proposal untuk mengisi kelas parenting terkait Read Aloud, nggak ada satu pun yang melirik. Seringnya dianggap jualan buku. Kini perjalanan teman-teman di Read Aloud Jogja mulai terlihat hasilnya. Rasanya senang, banyak orang di Yogyakarta mulai sering mengunjungi perpustakaan, meminjam buku dan membacakan nyaring ke anak-anak mereka. Nyaris 5 tahun perjalanan, dan baru terlihat hasilnya setelah teman-teman pengurus dan relawan melakukan hal baik ini secara konsisten.

Terima kasih untuk semua orang yang terlibat dalam perjuangan literasi di Indonesia.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top