Hari-hari kami berubah cepat. Tidur tak lagi utuh, percakapan sering terpotong, dan tubuh kami sama-sama lelah. Di masa itu, kami belajar satu hal penting: cinta saja ternyata tidak cukup. Ia perlu dirawat, dijaga, dan dikomunikasikan terutama ketika hidup terasa berat. Dari fase itulah, kami banyak belajar. Tentang diri kami masing-masing. Tentang pasangan yang selama ini kami kira sudah benar-benar kami pahami. Dan perlahan, justru dari masa paling rapuh itu, seiring waktu kami banyak belajar dan tumbuh menjadi pribadi dan pasangan yang lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Perubahan yang Datang Bersama Seorang Anak
Tidak ada pasangan yang menikah dengan niat untuk saling menyakiti. Semua berangkat dari cinta, tawa, dan janji untuk tumbuh bersama. Namun hidup berubah. Dan sering kali, jarak justru datang di fase yang seharusnya paling membahagiakan: ketika seorang anak lahir. Hadirnya buah hati menggeser banyak hal. Waktu yang dulu milik berdua kini terbagi. Percakapan yang dulu panjang kini terpotong tangis tengah malam. Tubuh lelah, emosi naik turun, dan perhatian terserap pada satu titik kecil yang kita cintai sepenuh hati. Pelan-pelan, tanpa benar-benar kita sadari, pasangan kita bukan lagi orang pertama yang kita dengarkan ceritanya hari itu.
Fase Rentan yang Sering Terlewat
Inilah fase yang jarang dibicarakan, tapi sangat rapuh. Bukan karena cinta menghilang, melainkan karena kelelahan yang tak sempat diucapkan. Istri lelah secara fisik dan emosional. Mengurus anak, memulihkan tubuh, menghadapi perubahan hormon, sekaligus belajar menjadi seseorang yang baru, seorang ibu, tanpa benar-benar meninggalkan dirinya yang lama.
Di sisi lain, suami pun menghadapi bebannya sendiri. Tuntutan untuk tetap kuat, tekanan ekonomi, dan perasaan tersisih karena perhatian keluarga berpusat pada anak sering kali dipendam dalam diam. Ketika kebutuhan emosional tidak saling tersampaikan, celah itu muncul. Pengalaman mendengar kisah dari kerabat dan teman, di masa-masa kritis inilah, perselingkuhan kerap berakar bukan selalu karena niat jahat, tetapi karena seseorang merasa didengar, diperhatikan, dan dianggap penting oleh orang lain. Ini tidak pernah bisa dibenarkan. Namun memahami kerentanannya membuat kita lebih waspada, bukan lebih gemar saling menyalahkan.
Pernikahan Bukan Tentang Siapa yang Paling Lelah
Kami pun pernah ada di titik saling merasa paling lelah. Tanpa sadar, kami mulai menghitung: siapa yang lebih banyak berkorban, siapa yang lebih sering mengalah. Padahal pernikahan bukan kompetisi pengorbanan. Ia adalah kerja sama dua manusia yang sama-sama sedang belajar peran baru. Istri bukan hanya ibu. Ia tetap perempuan yang butuh dipeluk, didengar, dan dihargai. Suami bukan hanya ayah atau pencari nafkah. Ia juga manusia yang ingin ditemani, dipercaya, dan merasa berarti. Memahami peran masing-masing bukan soal pembagian tugas yang kaku, tetapi tentang kehadiran emosional, tentang memilih untuk tetap saling menjaga, bahkan ketika sama-sama lelah.
Menjaga, Bukan Sekadar Bertahan
Seiring waktu, kami belajar bahwa bertahan saja tidak cukup. Hubungan perlu dijaga dengan sadar. Menjaga artinya tetap berbagi. Berbagi cerita kecil yang tampak sepele. Berbagi rasa takut yang tak selalu berani diucapkan. Berbagi kejujuran tentang lelah dan sepi. Kadang yang dibutuhkan bukan solusi besar. Cukup satu kalimat sederhana:
“Aku mendengarmu!”
“Aku lihat kamu berjuang.”
“Aku masih di sini.”
“Kita hadapi ini bersama.”
Hal-hal kecil inilah yang perlahan menjadi pagar tak terlihat, yang menjaga pernikahan tetap utuh dan selalu bertumbuh.
Cinta yang Dijaga adalah Ibadah
Dalam kacamata spiritual, pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi tentang amanah. Anak adalah titipan, tetapi pasangan adalah teman seperjalanan. Menjaga pernikahan di masa lelah, di masa sepi, di masa terasa tidak romantis, itu juga bentuk ibadah. Ibadah yang sunyi, tanpa sorotan, tapi bernilai besar. Tuhan tidak menuntut pernikahan yang sempurna. Yang diminta adalah kesediaan untuk kembali, kembali mendengar, kembali berbagi, kembali memilih satu sama lain.
Dan mungkin, pelajaran terpenting yang kami dapat sejak menjadi orang tua adalah ini: bahwa cinta tidak selalu terasa indah, tetapi ketika ia dijaga dengan kesadaran, ia akan membawa kita menjadi pribadi dan pasangan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Setiap hari, dengan sadar, kami belajar berkata: “Kita jaga ini bersama.”
Aku berharap tulisan ini tidak hanya mengingatkanmu tentang pasanganmu, tetapi juga tentang betapa pentingnya arti dirimu sendiri, mungkin tentang luka yang tak kamu sadari dan belum sempat dirawat, tentang lelah yang terlalu lama disimpan, dan tentang cinta yang diam-diam masih ingin dijaga.
Semoga tulisan ini membuatmu semakin mengenal dirimu sendiri, mengenal peran sebagai pasangan sekaligus orangtua. Dan sebagai manusia yang terus belajar mencintai dengan sadar.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar