Selasa, 25 November 2025

Guru Layak Dirayakan Setiap Hari

Sebagai orang tua dan pegiat literasi, aku sering melihat bagaimana anak-anak tumbuh bukan hanya karena buku yang mereka baca di rumah, tapi juga karena tangan-tangan hangat guru di sekolah. Dari cara mereka menyapa, dari mata yang berbinar saat anak berhasil membaca satu kata baru, sampai kesabaran yang tak pernah habis ketika harus mengulang pelajaran yang sama berkali-kali. Di titik itu, aku belajar: guru tidak hanya mengajar. Mereka memeluk masa depan.

Aku pernah menyaksikan seorang guru datang paling pagi, sambil menenteng setumpuk kertas. Kelas masih sepi, tapi ia sudah siap bercerita tentang dunia yang ingin ia bukakan untuk murid-muridnya. Dan ketika sekolah bubar, ia masih duduk di ruang guru, menandai tugas, mengisi laporan, menyiapkan pelajaran esok hari yang entah sempat ia istirahatkan dulu atau tidak.

Guru bekerja setiap hari. Bahkan di luar jam sekolah. Bahkan saat rumah masih gelap dan anak-anak masih lelap. Mereka hadir dengan hati. Mengajar tak hanya pelajaran, tapi juga keberanian bermimpi. Menjadi tempat pulang ketika seorang anak merasa kecil di dunia yang besar.

Aku percaya satu hal:
Bahkan di bawah pohon sekalipun, jika ada guru yang berkualitas, maka terjadilah pembelajaran yang layak. Karena ruang belajar terbaik bukan gedung megah, melainkan guru yang percaya bahwa setiap anak bisa tumbuh.

Maka terasa kurang adil jika penghormatan itu hanya hadir sekali dalam setahun.

Menghargai guru tidak cukup dengan bunga dan ucapan manis setiap 25 November. Menghargai guru berarti menyediakan hak yang layak, agar mereka bisa hidup dengan tenang sambil terus mengajar. Bukan guru yang sibuk memikirkan menambah penghasilan karena upah yang diterima setiap bulan hanya cukup membeli bensin. Mengurangi beban administrasi yang mengalihkan fokus mereka dari mendampingi murid belajar. Memberikan ruang untuk berkembang, bereksperimen, terus belajar, demi anak-anak yang semakin berdaya.

Karena begitu banyak yang kita harapkan dari seorang guru, tetapi sering kali terlalu sedikit yang benar-benar kita berikan.

Hari Guru seharusnya bukan sekadar seremoni.
Hari Guru adalah kebijakan yang berpihak.
Hari Guru adalah menghormati profesi mereka setiap hari, bukan hanya hari ini.

Untuk semua guru yang tetap hadir, meski kadang dunia tidak benar-benar melihat.

Terima kasih.
Teruslah menyinari jalan anak-anak bangsa, meski lampu panggung hanya menyala sesaat.

Aku berharap, orang tua, komunitas, siapa pun yang percaya bahwa pendidikan adalah kerja bersama, mari hadir mendukung mereka. Menguatkan mereka. Menjadi mitra, bukan hanya penonton. Karena sekolah bukan satu-satunya ruang belajar. Rumah, lingkungan, dan masyarakat juga punya peran besar dalam memastikan setiap anak tumbuh sebagai pembelajar seumur hidup.

Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana:
mendengarkan lebih banyak, mengapresiasi lebih tulus, terlibat dalam proses belajar anak, dan tidak menyerahkan semua tanggung jawab pada guru seorang diri.

"Saat guru, orang tua, dan komunitas bergerak bersama, pendidikan menjadi perjalanan yang lebih manusiawi". 

Selamat Hari Guru.
Semoga esok, dan setiap hari setelahnya, benar-benar menjadi Hari Guru.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top