Rabu, 12 November 2025

Review Buku: Good Inside

Beberapa waktu lalu aku mulai membaca buku Good Inside karya Dr. Becky Kennedy, dan bahkan baru di bab-bab awal saja, rasanya seperti petir di siang bolong. Buku ini sering banget diskon 50% di marketplace, dan aku bersyukur akhirnya memutuskan untuk beli.

Dr. Becky membuka pandangan dengan satu kalimat yang terasa sederhana, tapi benar-benar mengubah cara berpikirku sebagai orang tua: ketika anak melakukan hal yang tidak semestinya, kita punya dua pilihan perspektif:

“Apakah anakku memang nakal, atau anakku sebenarnya baik, hanya sedang kesulitan.”

Dan di titik itu, aku berhenti membaca sejenak dan aku ulangi kalimatnya. Karena kalimat itu menembus jauh ke dalam, membuatku mengingat bagaimana dulu aku sering dinilai “nakal” hanya karena belum bisa mengungkapkan perasaan dengan tepat. Betapa banyak dari kita yang tumbuh dengan pesan tidak langsung bahwa ada bagian dalam diri kita yang buruk dan harus diperbaiki. Padahal, seperti yang ditekankan Dr. Becky, kita semua baik di dalam (good inside), hanya saja kadang kita berjuang menghadapi emosi, kebutuhan, atau situasi yang sulit.

Tentang Cara Kita Merespons

Satu bagian yang paling membekas buatku adalah tentang bagaimana “respons yang kita terima dari pengasuh di masa kecil menjelma menjadi cara kita merespons diri sendiri.” Kalimat itu menjelaskan banyak hal: kenapa sebagian dari kita tumbuh menjadi orang dewasa yang “soft spoken”, dan sebagian lainnya tidak. Tentu saja juga ada usaha yang dilakukan. Kita kerap kali merasa mudah menenangkan orang lain tapi sulit menghibur diri sendiri. Karena cara kita menenangkan orang lain seringkali adalah refleksi dari cara kita dulu tidak ditenangkan. Dan akhirnya, pola itu terbawa ke cara kita menghadapi anak. Kita meniru, bahkan tanpa sadar.

Membaca bagian ini membuatku ingin memperlambat langkah, memberi ruang jeda sebelum bereaksi, dan bertanya:

“Anakku sedang kesulitan apa ya?”

“Aku sedang bereaksi karena perilakunya, atau karena luka masa laluku?”

Tentang Memahami, Bukan Membenarkan

Menariknya, buku ini juga menyinggung metode Gottman, yang juga pernah dibahas di buku Aku Mendengarmu.

Kuncinya adalah memahami.

Hubungan yang kuat, kata Dr. Becky, dibangun dari keyakinan bahwa “tidak ada yang benar secara absolut.”

Karena begitu kita berusaha memahami, orang lain merasa aman. Kadang kita lupa: memahami bukan berarti menyetujui. Memahami berarti kita menunda keinginan untuk membela diri, agar bisa benar-benar melihat orang lain. Dan itu berlaku bukan hanya untuk pasangan, tapi juga untuk anak.

Saat ada dua orang di dalam satu ruangan, berarti ada dua himpunan perasaan, pikiran, kebutuhan, dan perspektif. Dua dunia yang berbeda, yang sedang berusaha untuk saling melihat.

Kadang, kita berpikir bahwa menjadi orang tua berarti harus selalu tahu jawabannya. Tapi Good Inside justru mengajak kita berdamai dengan ketidaksempurnaan. Bahwa tidak apa-apa jika kita kadang marah, bingung, atau bereaksi berlebihan, asalkan kita mau kembali untuk memperbaiki koneksi, bukan sekadar memperbaiki perilaku anak. Dr. Becky menyebutnya repair, proses di mana kita mengakui bahwa hubungan bisa retak, tapi selalu bisa disambung kembali dengan kejujuran dan kasih sayang.

Buku ini juga mengingatkanku bahwa pengasuhan bukan soal mengontrol anak agar “berperilaku baik” melainkan membimbing mereka untuk memahami diri sendiri. Saat anak menjerit, menolak, atau menangis, mereka sebenarnya sedang berusaha memberi tahu kita sesuatu. Tugas kita bukan memadamkan ekspresinya, tapi menolongnya menamai dan menavigasi emosi itu. Karena saat anak belajar bahwa perasaannya diterima, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang juga bisa menerima diri sendiri.

Dan yang paling indah dari Good Inside adalah pesan lembut yang mengalir di setiap halamannya: bahwa setiap hubungan bisa menjadi tempat penyembuhan. Bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk kita, para orang tua yang mungkin dulu juga tidak selalu dimengerti. Membaca buku ini terasa seperti menggenggam tangan seseorang yang berkata, “Kamu tidak sendirian. Kamu cukup baik, bahkan di hari-hari tersulitmu.”

Mungkin inilah alasan kenapa buku ini disebut Good Inside, karena ia tidak hanya berbicara tentang anak, tapi juga tentang kita. Tentang keyakinan bahwa di balik setiap ledakan emosi, ada niat baik yang belum menemukan jalan. Tentang keberanian untuk memandang diri dan anak kita dengan kasih, bukan dengan kritik.

Jika kamu sedang mencari buku yang tidak hanya memberi teori pengasuhan, tapi juga mengembalikan kehangatan dan harapan dalam perjalanan menjadi orang tua, maka Good Inside adalah teman yang tepat. Aku memahami buku ini bukanlah buku yang ringan, tapi cobalah untuk membacanya perlahan, mungkin satu bab di sela kesibukan, dan biarkan setiap halamannya menyembuhkan bagian kecil dari dirimu yang dulu ingin sekali dipahami.

Buku ini tidak menggurui, tidak membuat kita merasa bersalah, justru membuat kita merasa lebih manusiawi. Dan mungkin, itu yang paling kita butuhkan saat ini: Bukan menjadi orang tua yang sempurna, tapi orang tua yang terus belajar memahami, diri sendiri dan anak-anak kita.

1 komentar :

Back to Top