Senin, 03 November 2025

Saat Rumah Menjadi Sekolah, dan Kehidupan Menjadi Kurikulum

Aku mulai memahami, anak-anak tidak perlu diajari untuk belajar. Mereka hanya butuh ruang untuk hidup sepenuhnya, dengan tubuh yang cukup istirahat, pikiran yang bebas bertanya, dan hari yang tidak dipenuhi perintah, tapi rasa ingin tahu.

Di rumah ini, kami tidak bangun karena alarm sekolah. Kami bangun karena tubuh sudah selesai beristirahat. Karena anak yang cukup tidur bukan hanya lebih sehat, tapi lebih hadir, lebih siap bermain, mengamati, bertanya, mencoba, menyimak dunia dengan mata yang berbinar.

Belajar bukanlah kegiatan yang terpisah dari hidup. Ia menyatu di dalam keseharian kami, di dapur tempat kami memotong sayur segar, di obrolan spontan tentang kenapa matahari “pindah” setiap sore, kenapa Allah ciptakan virus di halaman tempat mereka mengamati semut membawa sisa makanan, di buku-buku cerita anak dan ensiklopedia yang terbuka tanpa target halaman.

Di dapur, mereka ikut menyiapkan makanan dari bahan yang masih segar: sayur, buah, telur dari halaman kami sendiri, kaldu dari tulang yang direbus lama. Mereka belajar rasa, tekstur, proses, dan kesabaran. Kami sedang berusaha meminimalkan bungkus instan, tidak ada warna-warna buatan. Karena di rumah kami bunga telang, pandan, bayam merah pun tumbuh dengan baik, dan rasa syukur pada bumi yang memberi.

Dalam setiap pertanyaan yang mereka lontarkan, aku belajar untuk tidak terburu-buru memberi jawaban. Karena seringkali, saat aku menunda menjelaskan biasanya karena aku memang belum memahaminya, mereka justru menemukan jawabannya sendiri, lewat mengamati, mencoba, atau sekadar berpikir lebih dalam.

Kreativitas pun tumbuh dari ruang yang tidak dipadati aturan. Dari batang kayu dan daun yang berubah jadi kupu-kupu. Dari daun kering yang jadi koleksi mainan uang. Dari kardus paket yang disulap jadi rumah impian. Tidak butuh mainan mahal, cukup ide, waktu, dan kebebasan.

Unschooling, ternyata bukan tentang tidak sekolah. Ia tentang makna pulang: pulang pada naluri alami anak untuk belajar melalui hidup, pulang pada kepercayaan bahwa rasa ingin tahu adalah motor penggerak yang paling kuat, pulang pada ritme tubuh, bukan kalender akademik. Mengingatku kembali bahwa proses belajar tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan.

Setiap hari aku belajar menjadi saksi, bukan penentu. Menyediakan ruang, bukan menjejalkan materi. Menemani, bukan mengendalikan. Aku tidak yakin apakah ini cara terbaik untuk semua keluarga. Tapi untuk kami, ini cara paling hidup.

Mungkin di dunia yang serba cepat dan penuh target, cara paling berani mendidik anak adalah dengan memperlambat langkah, merawat tubuh dengan makanan sungguhan, dan percaya bahwa belajar terjadi saat hidup dijalani, bukan dipaksakan.

Cerita ini tidak untuk memaksamu mengikuti jalur unschooling yang kami pilih, karena nyatanya butuh privilege. Namun inilah gambaran bagaimana kami berkegiatan sehari-hari.

Coba ceritakan kegiatan apa saja yang paling berkesan selama proses belajar si kecil?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top