Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2026

Mengembalikan yang Pernah Terhubung

Tidak semua jarak terasa dramatis. Sebagian hadir diam-diam, di sela rutinitas yang padat dan hari-hari yang terlalu sibuk untuk disadari. Awalnya hanya lelah. Lalu komunikasi dipersingkat. Kemudian, tanpa benar-benar kita rencanakan, hubungan terasa tak terhubung.
Bukan karena tidak cinta. Melainkan karena kita lupa berhenti sejenak dan saling menoleh.

Rabu, 14 Januari 2026

Cinta yang Bertahan di Tengah Tangis Tengah Malam

Ketika anak hadir, jarak itu pelan-pelan datang. Aku ingin memulai tulisan ini dengan sebuah cerita. Tentang masa awal kami menjadi orangtua saat anak pertama hadir dalam hidup kami. Masa yang penuh harap, tapi juga penuh kejutan. Kami menyambutnya dengan cinta, namun tak sepenuhnya siap dengan perubahan yang datang bersamanya.

Selasa, 25 November 2025

Guru Layak Dirayakan Setiap Hari

Sebagai orang tua dan pegiat literasi, aku sering melihat bagaimana anak-anak tumbuh bukan hanya karena buku yang mereka baca di rumah, tapi juga karena tangan-tangan hangat guru di sekolah. Dari cara mereka menyapa, dari mata yang berbinar saat anak berhasil membaca satu kata baru, sampai kesabaran yang tak pernah habis ketika harus mengulang pelajaran yang sama berkali-kali. Di titik itu, aku belajar: guru tidak hanya mengajar. Mereka memeluk masa depan.

Sabtu, 15 November 2025

Maria Montessori: Perempuan yang Memilih Jalan yang Tak Mudah

Maria Montessori dikenal dunia sebagai pelopor pendidikan anak yang menempatkan kemandirian, rasa ingin tahu, dan penghargaan terhadap potensi setiap anak sebagai dasar pembelajaran. Namun, di balik gagasannya yang revolusioner, ada kisah pribadi yang tak kalah menggetarkan hati, kisah tentang cinta, pengorbanan, dan keberanian mengambil keputusan di luar arus zaman.

Rabu, 12 November 2025

Review Buku: Good Inside

Beberapa waktu lalu aku mulai membaca buku Good Inside karya Dr. Becky Kennedy, dan bahkan baru di bab-bab awal saja, rasanya seperti petir di siang bolong. Buku ini sering banget diskon 50% di marketplace, dan aku bersyukur akhirnya memutuskan untuk beli.

Dr. Becky membuka pandangan dengan satu kalimat yang terasa sederhana, tapi benar-benar mengubah cara berpikirku sebagai orang tua: ketika anak melakukan hal yang tidak semestinya, kita punya dua pilihan perspektif:

“Apakah anakku memang nakal, atau anakku sebenarnya baik, hanya sedang kesulitan.”

Senin, 03 November 2025

Saat Rumah Menjadi Sekolah, dan Kehidupan Menjadi Kurikulum

Aku mulai memahami, anak-anak tidak perlu diajari untuk belajar. Mereka hanya butuh ruang untuk hidup sepenuhnya, dengan tubuh yang cukup istirahat, pikiran yang bebas bertanya, dan hari yang tidak dipenuhi perintah, tapi rasa ingin tahu.

Di rumah ini, kami tidak bangun karena alarm sekolah. Kami bangun karena tubuh sudah selesai beristirahat. Karena anak yang cukup tidur bukan hanya lebih sehat, tapi lebih hadir, lebih siap bermain, mengamati, bertanya, mencoba, menyimak dunia dengan mata yang berbinar.

Minggu, 02 November 2025

Review Buku: Aku Mendengarmu

Ada satu momen yang mungkin pernah dialami banyak ibu: anak bercerita sambil menangis, tapi mulut kita lebih cepat dari telinga. Kita sibuk menjelaskan. Memberi nasihat. Mencari solusi. Kadang malah menyalahkan. Padahal, sebenarnya dia cuma ingin didengar. Itu juga yang bikin aku berhenti di buku Aku Mendengarmu karya Michael S. Sorensen. Bukan buku tebal, tapi dampaknya luar biasa. Ia bicara tentang satu hal yang tidak diperhatikan banyak orang: kekuatan validasi.

Kamis, 02 Oktober 2025

Merasa Cukup

Seperti tahun tahun sebelumnya, aku ditugaskan kembali ke Jakarta untuk mendukung kegiatan Let's Read di event Indonesia International Book Fair 2025. Ini juga jadi agenda tahunan keluargaku pergi ke Jakarta. Yang kelas kami nggak akan ke Jakarta kalo nggak karena event ini. Padahal banyak sekali hal yang bisa dieksplorasi di Jakarta. Kota yang tak pernah istirahat, semuanya serba cepat dan sibuk.

Sabtu, 12 Juli 2025

Kenapa Aku Memilih Unschooling

Beberapa orang bertanya, “Jadi anakmu nggak sekolah ya?” Aku menganggukkan kepala lalu menjelaskan pelan-pelan, “Iya, tapi bukan karena kami anti sekolah. Justru karena kami senang belajar makanya kami memilih unschooling.” Meski kadang mereka masih memandang kami kasihan, seolah kami tak mampu membayar uang sekolah untuk anak kami.

Buatku, unschooling bukan tentang menghindari bangku sekolah. Bukan pula sekadar “belajar di rumah”. Lebih dalam dari itu, ini tentang memercayai anak. Tentang memberi ruang untuk rasa ingin tahunya tumbuh, tanpa terburu-buru.

Kamis, 10 Juli 2025

Sehari Jadi Peternak Cilik

Di balik suara ayam berkokok dan riuh setiap pagi, ada tangan-tangan mungil di rumah yang penasaran banget tentang dunia peternakan. Akhir tahun lalu, kami mengunjungi peternakan ayam di daerah Sleman, karena suamiku ada rencana untuk pelihara ayam skala kecil untuk konsumsi pribadi. Ternyata kami sebutuh itu dengan telur ayam, Seminggu habis 2 kg sendiri. Tapi memang menurut beberapa penelitian telur ayam ini sumber protein yang baik, dan harganya cukup terjangkau. Makanya suamiku punya ide untuk perlihara ayam sendiri.



Waktu diajak survei, tentulah anak-anak senang dengan suara ayam, Iona paling suka ngejar ayam kecil. Kalau Aika lebih suka eksplorasi kandang ayam, lompat kesana kemari. Sebelum Pemilik peternakan sebel karena ayamnya nampak ketakutan, aku angkut anak-anak ke luar kandang, dan bermain di halaman depan bersama ayam kecil.

Sabtu, 27 April 2024

Nasi Padang

Siapa yang nggak kenal nasi padang, makanan dari Sumatera Barat ini sudah terkenal di lokal maupun internasional. Sampai ada lagunya nasi padang, lho! Yang mengejutkan lagi, yang bikin lagunya tuh orang Norwegia. Sejatuh cinta itu kayaknya sama nasi padang. Kalian cek aja pakai keyword: nasi padang song



Kayaknya dari Sabang sampai Merauke sudah familiar dengan makanan yang kaya akan rasa dan bumbunya nikmat banget.

Jumat, 26 April 2024

Belum Punya Mobil

Setelah tujuh tahun menikah dan punya dua anak, kami masih belum punya mobil. Sebetulnya ada beberapa orang terdekat yang menyarankan kami agar segera mengambil kendaraan roda empat itu. Aku memahami kepedulian mereka, karena rasanya nggak aman dan nyaman motoran berempat dengan anak-anak. 


Beda cerita kalau misalnya kami tinggal di negara lain dengan fasilitas transportasi umum yang memadai dan nyaman. Mungkin memiliki mobil bukan jadi salah satu hal yang perlu disegerakan ketika punya anak.
Back to Top