Seperti tahun tahun sebelumnya, aku ditugaskan kembali ke Jakarta untuk mendukung kegiatan Let's Read di event Indonesia International Book Fair 2025. Ini juga jadi agenda tahunan keluargaku pergi ke Jakarta. Yang kelas kami nggak akan ke Jakarta kalo nggak karena event ini. Padahal banyak sekali hal yang bisa dieksplorasi di Jakarta. Kota yang tak pernah istirahat, semuanya serba cepat dan sibuk.
Anak-anakku selalu antusias setiap kali menyambut event ini, kapan lagi dateng ke event surganya buku selama beberapa hari sambil menemaniku kerja. Setiap kali melihat jutaan buku yang ditata rapi, rasanya ingin sekali membawanya pulang. Apalagi kalo mampir ke beberapa lapak yang membagikan buku gratis seperti SIBI Kemendikdasmen. Siapa yang nggak seneng kalo buku cerita anak favorit yang biasanya diakses secara daring bisa dinikmati dan dibawa pulang untuk koleksi di rumah. Apalagi SIBI membagikan per kepala, kebayang setiap kali mampir ke lapak mereka, kami bisa mendapat 4 buku sekaligus. Kalau dikali dengan 5 hari event, bisa banget lho kita bawa pulang 20 buku sekaligus.
Tapi di hari ketiga kami enggan mengambil buku cerita anak gratis. Aku yakin pengunjung lain juga butuh sama bukunya, hanya saja mereka nggak tahu info tentang ini. Segera aku mengambil video untuk ikut mempromosikan SIBI supaya lebih banyak orang datang dan mendapatkan akses buku cetak gratis. Buku sebanyak dan sebagus itu rasanya sayang kalo dinikmati sendiri, pengunjung lain juga perlu mengakses buku cetaknya. Bahkan beberapa buku yang sudah kami bawa pulang, kami berikan ke teman dekat. Bukannya menyesal, tapi malah merasa senang, penuh, dan cukup.
Saking banyaknya buku dengan diskon jumbo, rasanya semua ingin dibeli dan dibawa pulang. Tapi isi kepalaku berdialog lagi:
1. Memang urgent banget, sampai harus beli sekarang
2. Apakah iya langsung dibaca?
3. Apa nggak bisa menunggu lain waktu?
4. Memangnya bisa bawa buku sebanyak itu kembali ke Jogja?
Pertanyaan ini yang bisa membuatku mengerem keinginan yang impulsif soal buku. Aku yakin semua orang punya keinginan membeli suatu barang, kita hanya berbeda barang saja. Jika aku tak ragu menghabiskan uangku untuk membeli buku, bisa jadi kamu atau orang di belahan dunia lainnya ada yang memprioritaskan baju, makanan, riasan, sepatu, atau gawai.
Kalau dilihat dari segi jumlah, koleksi bukuku belum sebanyak perpustakaan. Rasanya kurang bijak kalau membandingkan jumlahnya, bukankah manfaat dari buku tersebut juga sama pentingnya? Kenapa nggak dimanfaatkan sebaik-baiknya aja koleksi buku cerita anak di rumah? Biar nggak jadi pajangan yang nampak banyak dan rapi, tapi juga bisa bermanfaat. Paling tidak, bermanfaat untuk keluarga kecilku dan teman-temanku.
Ternyata begini nikmatnya memiliki rasa cukup, mau yang lain punya barang sebanyak apapun, rasanya hati ini tetap damai melihat hal-hal yang belum aku miliki.
Don't Let Comparison Steal Your Joy
Kamu pernah nggak merasa tenang, senang, dan bersyukur ketika kamu belum memiliki sesuatu atau orang lain memiliki lebih banyak dari kamu? Ceritakan donk pengalamanmu yang serupa?

Tidak ada komentar :
Posting Komentar